BERSUA DENGAN KARTINI
BERSUA DENGAN KARTINI
- Desember 14, 2020
Minggu pagi yang cerah, ku mulai dengan mengerjakan tugas untuk hari Senin besok. Ya, tentunya sehabis mandi dan sarapan. Aku mencari bahan untuk tugas tentang biografi pahlawan. Sebagai seorang perempuan, aku tertarik pada tokoh R.A Kartini. Itulah sebutan yang biasa dikenal oleh orang-orang pada umumnya. Nama lengkapnya adalah Raden Ajeng Kartini Djojo Adhiningrat. Aku mulai mencari artikel-artikel di internet yang berkaitan dengan beliau.
Aku terkesima dengan sebuah foto tentang R.A Kartini pada zaman dahulu. Ya, tertulis foto tersebut diambil pada tahun 1800an. Indonesia masih dalam masa penjajahan bangsa Belanda. Tiba-tiba aku terhipnotis dengan foto tersebut. Seketika penglihatanku menjadi gelap. Tiba-tiba aku berada di sebuah pendopo. Aku melihat semua anak-anak perempuan seusiaku berpakaian menggunakan kemban dan jarit. Aku seketika bingung, aku ada di mana dan mengapa pakaian mereka seperti pada zaman dahulu. Namun, aku lebih terkejut ketika melihat seorang perempuan mirip dengan sosok R.A Kartini di depanku. Lalu aku bertanya-tanya pada anak-anak yang lain. Mereka berkata bahwa kami sedang berada di pendopo kabupaten Jepara dan perempuan yang sedang berada di depan adalah Raden Ajeng Kartini. Begitulah mereka memanggilnya.
"Anak-anak, kita mulai dengan huruf A. Ini A besar, dan ini a kecil!" tutur Kartini dengan lantang dan semangat dan diikuti oleh anak-anak lainnya.
Ya, R.A Kartini sedang mengajarkan baca tulis kepada anak-anak seusiaku. Ketika, pembelajaran selesai, aku menghampiri R.A Kartini.
"Raden Ajeng!"sahutku sembari menghampirinya.
"Ya? Ada apa cah ayu?" tanyanya kepadaku.
"Ada yang mau saya tanyakan, maaf kalau kurang sopan." kataku sembari menundukan kepala.
"Ya boleh, apa yang mau kamu tanyakan kepada saya?" jawabnya.
"Mengapa Raden Ajeng mau mengajari anak-anak di sini untuk belajar membaca dan menulis? Lalu kenapa hanya ada anak- anak perempuan saja?" tanyaku.
"Ya saya ingin semua perempuan bisa membaca dan menulis. Agar nantinya tidak disepelekan oleh laki-laki. Saya mulai dari anak-anak perempuan agar mereka terbiasa dan lebih paham nantinya. Toh nanti mereka akan menjadi ibu untuk anak-anak mereka." jawabnya sembari tersenyum kepadaku.
"Bukankah perempuan desa terbiasa dengan buta huruf?" tanyaku.
"Ya, rata-rata dari mereka buta huruf. Karena mereka tidak bisa merasakan bangku sekolah. Maka dari itu, saya ingin membagikan ilmu kepada mereka." jawabnya.
"Apakah membaca dan menulis untuk mereka itu berguna? Bukankah akhirnya nanti mereka hanya akan menjadi istri dan sebagian besar hidupnya di dapur. Jadi, hanya laki-laki saja yang harus pintar agar bisa mencari pekerjaan" tanyaku lebih dalam.
"Wah, wah kamu ini!! Perempuan itu tidak hanya di dapur saja sebagai istri dan ibu rumah tangga! Jangan sampai derajat perempuan direndahkan oleh kaum laki-laki!!! Mereka juga bisa menjadi apa saja yanh mereka mau!! " jawabnya.
"Sebenarnya aku hanya ingin menjadi seorang istri dan ibu di rumah saja nantinya, seperti ibuku" kataku.
"Wah kamu ini, mengapa keinginanmu hanya seputar itu saja? Coba katakan padaku, apa apa cita-cita tertinggimu?" tanyanya kepadaku.
"Hmm, baiklah, aku ingin menjadi dokter. Aku ingin bisa berguna bagi orang banyak" jawabku.
"Nah, bagus! Kamu harus mempunyai cita-cita dan tujuan hidup. Kamu harus rajin dan semangat dalam belajar. Belajarlah setinggi-tingginya dan buatlah bangga kaum perempuan. Perempuan bisa menjadi apa saja tanpa ada yang menentang. Jadilah perempuan yang bermartabat!" jawabnya sembari tersenyum dan menepuk pundakku.
Seketika penglihatanku menjadi gelap kembali. Aku seperti terbangun dari mimpi. Namun, aku dapat mengingat apa yang telah terjadi tadi. Aku jadi tersadar bahwa aku sebagai perempuan harus mempunyai cita-cita yang tinggi. Aku harus rajin belajar dan pantang menyerah untuk menggapai cita-cita. Aku akan berusaha untuk bisa sekolah setinggi-tingginya. Aku ingin menunjukkan bahwa perempuan juga bisa menjadi apa yang mereka mau tanpa ditentang.
-selesai-
👍👍👍👍
ReplyDelete